go green indonesia!

Senin, 29 Maret 2010

Reboisasi oleh Kita untuk Kita

-Liputan Smansa-

Go Green. Itulah hal yang dari tadi kita bahas. Tapi sebenarnya apa itu? Go Green? Penghijauan? Apa sih??? Penghijauan adalah usaha penataan lingkungan dengan mempergunakan tanaman sebagai materi pokoknya, (upaya yang dapat menanggulangi degradasi dan kualitas lingkungan).

Nah tuh… sekarang kamu tahukan? Apa itu penghijauan?

But, Teori, teori dan teori, selayaknya kata orang zaman kini, “No Action Talk Only”. Aduh… sebaiknya hal itu dijauhkan dari budaya hidup kita. Kita Cuma tahu sesuatu yang berbeda, tapi kita tak mengambil tindakan. Tapi sepertinya hal itu jauh dari kita. Khususnya SMA N 1 Purworejo. Tepat pada tanggal 31 Januari 2010 lalu, OSIS menjalankan prokernya yang merupakan proker Umum PPBN ( Pendidikan Pendahuluan Bela Negara ) yaitu Penghijauan Ganesha Muda. Tepuk tangan yang meriah untuk OSIS/MPK SMANSA..!!!

Proker itu dijalankan oleh warga SMA N 1 Purworejo sendiri. Namun, tidak seluruh siswa mengikutinya. Hanya siswa yang termasuk dalam ekskul PMR, GEMAPALA, dan SILAT. Tahukah kamu? Pejabat-pejabat penting di Purworejo juga melakukan penanaman lho… sekarang timbul pertanyaan. Kenapa hanya mereka yang ngadain? Sebaiknya, kita juga ikutan!!

Tapi kayaknya kalau kita nggak mau ngeluarin uang saku, kita punya kendala nich! Yaitu tentang bibit! Kalau misalnya kita mau ngadain penghijauan besar-besaran, maka kita harus beli bibit dengan berbagai harga, tapi kita males ngeluarin rupiah dari saku kita! Aduh… memang anak zaman sekarang! Sekarang, ketua kelas REXZONA memberikan sebuah solusi jitu untuk kita semua. Biar kita bisa ngadain penghijauan tanpa merogoh rupiah, kita bisa membuat bibit melalui ilmu yang sudah kita dapatkan dari pelajaran biologi. Yatu dengan melakukan perkembangbiakan tumbuhan buatan. Wowh… memang sih, lumayan susah dan perlu waktu, tapi apa salahnya mencoba? Hemat pangkal kaya bro…!

Ayo kita buat sebuah perubahan kecil untuk suatu yang besar! Ayo kita lestarikan bumi kita! Dengan go green! Salah satunya reboisasi! Yuk… mulai sekarang kita catat di agenda bulanan kita, untuk menanam pohon di lingkungan atau di kebun rumah untuk bumi kita.

Global Warming vs Global Cooling


-Liputan Utama-



Dua bulan pertama tahun 2010 dilewati dengan cuaca yang amat ekstrim. Pagi hari, matahari bersinar amat cerah, siangnya panas minta ampunt, tapi menjelang sore… Anginnya kenceng banget dan kemudian disusul hujan petir nggak berkesudahan. Itu yang kita rasakan. Satelit Terra punya NASA menangkap gambar Kepulauan Inggris Raya berubah bagaikan kue berlumur gula halus. Yep! Semua putih!!! Kenapa itu?

Ternyata, gula putih yang menyelimuti Negaranya Harry Potter itu adalah salju! Whoa! Akibat salju, kereta api Eurotunnel dari Inggris ke Perancis yang melalui terowongan bawah laut Channel, sampai macet karena ada salju masuk ke mesinnya. Sedangkan di Jerman, suhu terendah mencapai 330 di bawah nol. Banyak korban jiwanya, begitu juga di Belgia dan Rusia. Bahkan laut di Pelabuhan Beijing sampai membeku. Di Negeri Paman Sam, lapisan salju tertebal adalah 191 cm. That’s terrible…

Perlu kalian ketahui, cuaca ekstrem pada Januari hingga Februari lalu merupakan dampak dari tenangnya aktivitas matahari. Satelit SOHOnya NASA mencatat permukaan matahari yang bersih dan bebas dari bintik matahari selama lebih dari 772 hari pada 2004, padahal normalnya hanya 485 hari. Tenangnya sang Surya menyebabkan intensitas cahaya ke Bumi sedikit lebih rendah, dan suhu bumi juga ikut turun dan diperkirakan akan berlangsung hingga 2030. Dampaknya? Jadilah Global Cooling. Presiden Barrack Obama malah menyebutnya Snowmageddon.

Dengan dinginnya Bumi, bukan berarti kita bisa mengibarkan bendera kemenangan melawan global warming. Para peneliti bilang, setelah periode tenang seperti ini, pasti ada periode bergejolak, bahkan akan merasakan efek berganda setelah masa pendinginan berakhir. Jadi jangan senang dulu dan jangan beranggapan bahwa pendinginan ini merupakan obat dari pemanasan. Jika global cooling terus berlanjut dan semakin parah, kita akan mengalami zaman es kecil, seperti yang pernah terjadi pada 1645 sampai 1715, yang menyebabkan kekurangan pangan.

Indonesia sebagai negara maritime telah diperingatkan untuk terus menurunkan emisigas rumah kaca, karena Indonesia, yang terletak di persilangan dua samudera, sangat dipengaruhi oleh cuaca. Tetap jaga Bumi kita ini ya, karena tangan kitalah Bumi rusak, dan dengan tangan kita juga, Bumi bisa sembuh.

Sumber: Suara Merdeka 8 Maret 2010

Sumber gambar :

http://www.angryconservative.com/home/Portals/0/Blog/GlobalWarming/global_warming_or_global_cooling.jpg

Minggu, 28 Maret 2010

Rexzona in Action for The Earth

-Liputan Utama-



Issue global warming udah menyebar di mana-mana.

Whaddayathink, guys? Sudahkah kalian mencoba untuk menguranginya? Atau masihkah kalian menambah penderitaan Bumi kita yang sudah tua ini?

Memang sudah banyak orang ataupun lembaga yang mengusahakan pencegahan dampak global warming. Tapi dengan amat banyaknya pendduduk di Bumi yang kurang peduli, apa bisa? Tentu saja nggak! Pastinya kita masih terus menerus dan akan terus berlanjut mencari dan mengusahakan berbagai cara untuk mengurangi dampak global warming. Mulai saja dari hal terkecil, seperti suka ‘hijau’.

Pernah dengar ‘Teens Go Green’? Kata-kata itu sudah sering bertebaran di mana-mana, menyuarakan agar para remaja mulai memperhatikan lingkungan sekitar dengan menyukai segala macam hijau-hijauan. Kata-kata itu sangat identik dengan reboisasi, padahal nggak selamanya harus tentang penanaman pohon. Untuk mewujudkan hijaunya Bumi kita, kita bisa melakukan hal lain juga, such as buang sampah di tempatnya, mengurangi pemakaian

bahan bakar minyak, jaga kebersihan, hemat listrik, dan lain sebagainya.

Dan teman-teman dari Rexzona udah mencoba buat mengembalikan hijaunya bumi kita, lho! Beberapa waktu yang lalu, anak-anak X.7 SMANSA ini rajin latihan vocal group, and guess what??? Masih banyak anak yang pakai sepeda atau jalan kaki ke rumah Andhika, rumah yang dipakai buat latihan. Galuh, salah satu Rexoner bilang, “Rumahku deket, kok, jadi jalan aja.” Waaa!!! Hebat-hebat juga ya, teman-teman kita ini?!

Hari Jum’at kemarin, waktu para Rexoner latihan di alun-alun Purworejo, banyak banget yang pakai sepeda. Salah satunya adalah Indah, yang kalau ke mana-mana hampir selalu naik sepeda. Banyak juga yang masih setia sama angkutan kota, yang bisa menampung belasan orang sekali jalan. Memang masih ada yang pakai motor, sih, tapi nggak banyak. Two thumbs up buat Rexoners!!!

Jadi, kalau kita mau menghijaukan Bumi ini, nggak ada susahnya, kok! Cukup mulai dari diri sendiri, sadarlah, kalau tempat kita berpijak ini nggak bisa ditempati, lalu kita mau ke mana???


Oleh : Ch_z (X RSBI 7 / 5)

Hijaukan ku Kembali -italian-

-Liputan Utama-

"La mia schiena verde" forse questo è ciò che oggi è parlato da parte nostra terra. Terra in cui viviamo oggi, meno verde. you know? Il nostro mondo è ora sento molto molto caldo, o che abbiamo usato per chiamare il riscaldamento globale. Questo accade perché il clima sta ora sperimentando cambiamenti significativi. Gli scienziati prevedono che, durante il riscaldamento globale, la parte settentrionale dell'emisfero boreale (emisfero boreale) si riscalda di più rispetto ad altre regioni della Terra. Come risultato, gli iceberg si sciolgono e la terra si ridurrà. Ghiaccio sarà meno galleggia sugli oceani del Nord. Aree che in precedenza sperimentato neve leggera, non può essere ancora lì. In montagna nelle zone subtropicali, le parti coperte di neve saranno di meno e si sciolgono più rapidamente. Stagioni di crescita sarà più lunga in alcuni settori. Temperature in inverno e di notte si tende ad aumentare.
Regioni più calde diventerà più umido, come l'acqua evapora più dagli oceani. Gli scienziati non sono sicuri che l'umidità sia effettivamente destinato ad aumentare o diminuire il riscaldamento ulteriore. Questo avviene perché il vapore acqueo è un gas ad effetto serra, in modo che la sua presenza aumenterà l'effetto di isolamento in atmosfera. Tuttavia, il vapore più acqua svilupperà anche nubi molto di più, che riflettono la luce solare verso lo spazio, dove sarà di ridurre il processo di riscaldamento. Alto tasso di umidità aumenta le precipitazioni, in media, circa l'1 per cento per ogni grado Fahrenheit di riscaldamento. (Piogge nel mondo è aumentato di 1 per cento negli ultimi cento anni). La tempesta diventeranno sempre più frequenti. Inoltre, l'acqua evapora più veloce della terra. Alcune regioni saranno più secche di prima. Vento soffierà più forte e forse con un diverso modello. Hurricane (uragano) che il potere di ottenere dalla evaporazione dell'acqua, diventerà più grande. Contrariamente a quanto sta accadendo il riscaldamento, alcuni periodi molto freddi probabilmente accadrà. Modelli climatici sempre più imprevedibili ed estremi.
Allora, come possiamo fermarlo? Un modo è quello di ridurre i livelli di carbonio nell'aria. Il modo più semplice per eliminare l'anidride carbonica nell'aria è di mantenere gli alberi e le piante più alberi. Alberi, in particolare i giovani e in rapida crescita, assorbono anidride carbonica molto, rompendo attraverso la fotosintesi e di immagazzinare il carbonio nel bosco. In tutto il mondo, il livello di invasione ha raggiunto un livello allarmante. In molte aree, le piante che crescono un po 'indietro, perché il suolo perde la sua fertilità quando si modifica per altri usi, come ad esempio per l'agricoltura e lo sviluppo degli alloggi. I passaggi per superare questa è di rimboschimento che svolgono un ruolo nel ridurre l'aumento dei gas ad effetto serra.
Anidride carbonica può anche essere eliminati direttamente. Modalità di iniezione (iniezione), il gas nei pozzi di petrolio per incoraggiare l'olio in superficie (Enhanced Oil Recovery). Iniezioni può essere fatto anche per isolare il gas sotto terra come in pozzi di petrolio, carbone o strato acquifero. Ciò è stato fatto in uno degli impianti di trivellazione al largo delle coste della Norvegia, in cui l'anidride carbonica è riportato in superficie con il gas naturale è stato catturato e immessi di nuovo nella falda acquifera, che non possono essere restituiti alla superficie.
In un contributo fonte di biossido di carbonio è la combustione di combustibili fossili. L'uso di combustibili fossili ha cominciato ad aumentare rapidamente a partire dalla rivoluzione industriale nel 18 ° secolo. A quel tempo, il carbone è diventata la fonte principale di energia per poi sostituito da petrolio a metà del 19 ° secolo. Nel 20 ° secolo, ha iniziato l'energia gas regolare viene usata nel mondo come una fonte di energia. Tendenza al cambiamento dell'uso dei combustibili fossili è in realtà indirettamente ridotto la quantità di anidride carbonica nell'aria, perché rilascia anidride carbonica inferiori a quelle del petrolio molto meno rispetto al carbone. Tuttavia, l'uso delle energie rinnovabili e più l'energia nucleare per ridurre l'emissione di anidride carbonica nell'aria. L'energia nucleare, anche se controverso a causa di motivi di sicurezza e rifiuti pericolosi, nemmeno l'anidride carbonica liberata a tutti.
Allora, che cosa dobbiamo fare per ridurre l'impatto del riscaldamento globale è la nostra terra ancora verde.


Translate to Indonesian

“Hijaukan ku kembali” mungkin itulah yang sekarang diucapkan oleh bumi kita. Bumi tempat kita tinggal kini, berkurang kehijauannya. Tahukah kamu? Bumi kita ini kini merasakan panas yang sangat amat atau kita biasa menyebutnya dengan pemansan global. Hal tersebut terjadi karena kini iklim mengalami perubahan yang signifikan. Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat.

Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Para ilmuan belum begitu yakin apakah kelembaban tersebut malah akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini disebabkan karena uap air merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa luar, di mana hal ini akan menurunkan proses pemanasan. Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata, sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. (Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir ini). Badai akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (hurricane) yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim.

Lalu, bagaimana cara kita menghentikan hal itu? Salah satu caranya adalah mengurangi kadar karbon di udara. Cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbon dioksida di udara adalah dengan memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih banyak lagi. Pohon, terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya, menyerap karbon dioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam kayunya. Di seluruh dunia, tingkat perambahan hutan telah mencapai level yang mengkhawatirkan. Di banyak area, tanaman yang tumbuh kembali sedikit sekali karena tanah kehilangan kesuburannya ketika diubah untuk kegunaan yang lain, seperti untuk lahan pertanian atau pembangunan rumah tinggal. Langkah untuk mengatasi hal ini adalah dengan penghutanan kembali yang berperan dalam mengurangi semakin bertambahnya gas rumah kaca.

Gas karbon dioksida juga dapat dihilangkan secara langsung. Caranya dengan menyuntikkan (menginjeksikan) gas tersebut ke sumur-sumur minyak untuk mendorong agar minyak bumi keluar ke permukaan (Enhanced Oil Recovery). Injeksi juga bisa dilakukan untuk mengisolasi gas ini di bawah tanah seperti dalam sumur minyak, lapisan batubara atau aquifer. Hal ini telah dilakukan di salah satu anjungan pengeboran lepas pantai Norwegia, di mana karbon dioksida yang terbawa ke permukaan bersama gas alam ditangkap dan diinjeksikan kembali ke aquifer sehingga tidak dapat kembali ke permukaan.

Salah satu sumber penyumbang karbon dioksida adalah pembakaran bahan bakar fosil. Penggunaan bahan bakar fosil mulai meningkat pesat sejak revolusi industri pada abad ke-18. Pada saat itu, batubara menjadi sumber energi dominan untuk kemudian digantikan oleh minyak bumi pada pertengahan abad ke-19. Pada abad ke-20, energi gas mulai biasa digunakan di dunia sebagai sumber energi. Perubahan tren penggunaan bahan bakar fosil ini sebenarnya secara tidak langsung telah mengurangi jumlah karbon dioksida yang dilepas ke udara, karena gas melepaskan karbon dioksida lebih sedikit bila dibandingkan dengan minyak apalagi bila dibandingkan dengan batubara. Walaupun demikian, penggunaan energi terbaharui dan energi nuklir lebih mengurangi pelepasan karbon dioksida ke udara. Energi nuklir, walaupun kontroversial karena alasan keselamatan dan limbahnya yang berbahaya, bahkan tidak melepas karbon dioksida sama sekali.

Go Green…!!Jadi, hal yang harus kita lakukan untuk mengurangi dampak global warming adalah kembali menghijaukan bumi kita.
Sumber : Wikipedia

Sabtu, 27 Maret 2010

Pentas REXZONA

-Liputan Kelas-
Sebenernya kita bingung mau ngisi apa pada liputan kelas ini. Tapi, ada satu hal yang bikin kita inget akan penghijauan dan inget akan kebersamaan. Kira-kira apa ya?

Kemarin, REXZONA telah berhasil menampilkan yang terbaik dari kami. Yaitu pada audisi Vocal Grup buat pensi yang dilaksanain tanggal 22 Maret 2010. Eh… ntar, sebenernya apa hubungannya sih?

Sekarang aku bakal jelasin dulu, gini… kita anak REXZONA ngambil tema our 70’s stupid, alias “kebodohan kami yang terjadi pada tahun 70-an”. Tahun 70-an, orang-orang masih jarang yang pake sepeda motor buat berjalan-jalan kesana kemari tanpa arah, mereka lebih suka pake sepeda. Nah tuh! Yang semestinya kita contoh buat nge-stop global warming! Emang sih, hal itu keliatan kuno dan terkesan gimana…gitu! Tapi itulah yang sepatutnya kita jadiin teladan. Meski hal ini keliatannya sepele, tapi daripada kita mbuat acara yang muluk-muluk dan sulit direalisasikan, mending kita kasih contoh dulu buat temen-temen kita yang rumahnya deket tapi pake sepeda motor! Berawal dari yang kecil, untuk bumiku yang tak mungil! Inget itu!

Sekarang kamu udah tau kan? Apa hubungannya pensi REXZONA dengan global warming? Nah… jadi, REXZONA juga nggak kalah udah nge-aplikasiin apa yang udah kita dapetin tentang global warming, pada berbagai hal, salah satunya Pensi! Hihihi…

Pokoknya, harus kita lestariin kegiatan yang begini-begini.

The Up To Date News

Go Green Indonesia..!!

go green indonesia!